Sedikit Tips Memilih (On the Road to Pemilu 2009)

•March 23, 2009 • 2 Comments

Halo!! Dengan Pemilihan Umum yang kini sudah berada dalam hitungan hari (minggu, lebih tepatnya), mari kita putuskan apa yang akan kita lakukan dalam pesta demokrasi kali ini, yang katanya adalah batu loncatan terakhir dalam masa transisi reformasi Indonesia.

Mengutip satu pembicara dalam sebuah seminar Pemilu yang saya hadiri beberapa hari lalu, saya ingin mencoba ‘bertanggung jawab terhadap masyarakat di sekeliling saya’ dengan mengajak Anda semua, yang membaca blog ini, untuk menggunakan hak pilih Anda (termasuk saya juga) dalam Pemilu 9 April mendatang!!

Ingat: 9 April, jangan sampai lupa untuk pulang sehari dan mencontreng kertas suaranya. Simpel kok: Anda hanya tinggal contreng di sebelah foto caleg (calon legislatif—pen) saja. Atau kalau merasa tidak sreg dengan caleg manapun, Anda selalu bisa mencontreng lambang partainya saja.

Nah, setelah membaca posting terakhir saya, mungkin ada beberapa dari Anda yang malah jadi bingung ingin memilih caleg atau partai (atau presiden, nantinya) mana. Tidak cuma karena masalah sistem pemerintahan itu, tapi juga karena terlalu banyak partai dan caleg yang terlibat dalam Pemilu sekarang ini. Saya juga mendengar dari berita kalau tidak sedikit masyarakat yang kebingungan, dan jadi malas atau antipati (termasuk di kalangan kolega-kolega saya) untuk ikut Pemilu, terutama Pemilu legislatif (meskipun KPU telah berinisiatif mengirimkan SMS ajakan mencontreng ke ponsel-ponsel masyarakat). Beberapa pendapat yang saya saring dari teman-teman (melalui obrolan informal, sambil main game, chatting, atau makan pisang) menyatakan bahwa mereka ‘mungkin tidak akan ikut Pemilu legislatif, tapi akan ikut Pemilu presiden’. Beberapa sudah tahu akan memilih siapa pada pemilihan presiden (pilpres) nanti.

Mungkin teman-teman di sekitar Anda juga berpendapat demikian (atau mungkin Anda juga punya pemikiran seperti itu?). Saya pribadi sempat terpengaruh untuk ikut-ikutan tidak memilih legislatif. Alasan utamanya juga karena saya bingung mau pilih siapa: kebanyakan caleg! Dan dari banyak atribut kampanye yang saya lihat, yang mengotori pemandangan kota manapun di sepanjang jalan (oh, betapa saya ingin semua kota seperti sebuah dusun di Yogyakarta yang anti atribut kampanye), saya harus bilang bahwa saya tidak kenal banyak dari mereka (kecuali beberapa tokoh yang cukup ternama dan artis-artis, yang, nampaknya, makin kebelet saja ingin jadi caleg). “Tak kenal maka tak contreng”, saya kira bunyi peribahasanya demikian.

Namun apakah kemudian saya harus menjadi golput (golongan putih, tidak memilih—pen.)? Saya kira tidak. Ada satu tips memilih (yang juga rencananya akan saya gunakan) yang saya harap bisa dijadikan semacam dorongan buat Anda sekalian agar tidak terjerumus (maafkan istilah yang saya pakai) dan justru menjadi golput. Pertama-tama perlu disadari dulu bahwa, seperti yang telah saya sampaikan, Pemilu 2009 ini katanya akan menjadi semacam indikator ‘lepas landas’ dari reformasi. Keberhasilan Pemilu ini, oleh karenanya, adalah keberhasilan Indonesia pula. Sebagai orang-orang yang senantiasa bangga terhadap Tanah Air, sudah sewajarnya kita harus turut serta dalam upaya menuju keberhasilan tersebut, bukan?

Tips yang saya ajukan ini berhubungan dengan posting saya sebelumnya (makanya, saya kan sudah bilang, dibaca dulu!). Sebelumnya saya berbicara soal sistem pemerintahan: bahwa Indonesia memiliki sistem pemerintahan yang ‘DPR heavy’. Artinya, kekuatan presiden kelak akan bergantung pula pada komposisi parlemen (yaitu seberapa banyak oposisi yang berkuasa, seberapa banyak yang berpihak, dan sebagainya).  Terlalu banyak oposisi akan memicu terbentuknya ‘kabinet pelangi’ (kabinet yang di dalamnya terdapat menteri-menteri dari berbagai partai), dan ini mengurangi efisiensi kinerja pemerintah. Dari sini maka kesimpulan yang bisa ditarik adalah: banyaknya anggota parlemen pendukung pemerintah (non-oposisi) akan membantu meningkatkan efisiensi lembaga eksekutif. Membantu, dalam arti relatif lebih mudah dalam menggolkan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah (apalagi yang pro-raktyat).

Kesimpulannya? Dalam Pemilu legislatif nanti, pilihlah partai yang sesuai dengan partai asal capres yang akan Anda pilih kelak! Simple as that. Dari sekarang kita sudah bisa tahu, kan (kecuali Anda tidak pernah nonton televisi atau sekedar baca koran) siapa saja prediksi calon presiden yang akan berlaga dalam arena pilpres nanti. Ini untuk membantu si capres pilihan Anda juga, lho: Ingat, presiden yang didukung parlemennya (dengan sistem pemerintahan kita sekarang) akan bekerja relatif lebih efisien.

“…Tunggu dulu sedetik (wait a second)! Tetap saja tidak ada pengaruhnya kalau orang-orang tidak pilih partai yang saya pilih, kan?”

Well, setidaknya Anda sudah membuktikan bahwa Anda peduli dengan masa depan negara Anda! Anda tentu tidak mau kalau presiden yang Anda pilih kelak terus-terusan terhambat oleh parlemennya, bukan? Anda juga pasti tidak mau mendapati diri Anda, pada suatu waktu, berpikir, “Coba waktu itu saya pilih partainya waktu Pemilu legislatif!”. Gunakan hak pilih Anda tanggal 9 nanti!

Bingung pilih caleg mana? Sudah saya bilang, CONTRENG SAJA PARTAINYA!! Itu masih lebih baik daripada kalau Anda ‘memilih untuk tidak memilih’ (lihat ironinya, kan?)

Memikirkan Sejenak Tentang Pemilu: Sistem Presidensial dan Parlementer

•March 15, 2009 • 2 Comments

Halo, kali ini saya tulis pakai bahasa Indonesia, soalnya topik yang saya mau bahas ya tentang Indonesia. Tentang apa? Apalagi kalau bukan Pemilu.

Baru kemarin ini ramai dibicarakan soal rapat partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Rapat ini diduga merupakan awal rencana pembentukan koalisi antara kedua partai untuk mempersiapkan baik itu Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif bulan depan dan Pemilu presiden berikutnya. Keinginan mengomentari hal ini muncul setelah saya kemarin menyaksikan wawancara antara petinggi kedua partai (Surya Paloh dari Golkar dan Taufik Kiemas dari PDIP).

Yang mau saya bahas sebenarnya banyak. Banyak, karena dari rapat kemarin ini saya terpikirkan macam-macam hal yang bisa muncul dari sana. Ayo kita coba telusuri satu per satu (sambil berharap mudah-mudahan otak saya bisa menyusun tulisan ini dengan runut dan enak dibaca).

Yang pertama, implikasi yang bisa muncul dari rapat antara Golkar-PDIP tersebut. Saya sudah mengatakan bahwa ada dugaan (yang kuat) bahwa rapat itu merupakan indikasi bahwa akan terbentuk koalisi di antara kedua partai. Sekarang mari kita bayangkan seandainya kedua partai tersebut benar-benar berkoalisi: dua partai raksasa, berkoalisi. Apa jadinya kalau mereka menang Pemilu legislatif? Ya, tentu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan diisi kedua partai ini, siapapun tahu itu. Maksud saya, dampaknya kalau sampai parlemen didominasi dua partai besar yang berkoalisi.

Sebelum menjawab itu, mari kita bayangkan satu kondisi lagi.  Bayangkan kalau presiden yang terpilih bukan berasal salah satu dari kedua partai tersebut. Jadi sekarang kita punya dua kondisi: Golkar dan PDIP yang bersatu (dan, dalam hal ini, memenangkan Pemilu legislatif sehingga menguasai parlemen), dan presiden terpilih yang bukan dari kedua partai tersebut.

Seandainya Indonesia menerapkan sistem pemerintahan yang konsisten, mungkin saya tidak akan terpikirkan hal ini. Secara tertulis (berdasarkan amandemen Undang-Undang Dasar/UUD 1945), sistem pemerintahan Indonesia adalah presidensial, namun selama periode pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kita bisa melihat sudah beberapa kali terjadi konflik antara pemerintah eksekutif dengan DPR, terkait penyusunan kebijakan oleh pemerintah yang seringkali diintervensi oleh DPR. Untuk menggambarkan hal ini saya teringat judul artikel Syamsudin Haris di Kompas, Indonesia sekarang sedang menjalankan sistem pemerintahan “Presidensial Cita Rasa Parlementer” (Kompas 28/11/08). Syamsudin menggunakan istilah “sarat DPR/DPR heavy” untuk menjelaskan bahwa amandemen konstitusi yang semula ditujukan untuk menyeimbangkan kekuasaan eksekutif-legislatif, ternyata justru memberikan otoritas yang lebih banyak untuk DPR.

Apa dampaknya bagi presiden terpilih? Dengan sistem pemerintahan yang ada sekarang, jika kondisi yang telah kita bayangkan sebelumnya benar-benar terjadi, lembaga eksekutif akan menghadapi tantangan yang sangat berat. Pada Pemilu sebelumnya, SBY berhasil merangkul Jusuf Kalla dari Golkar (yang telah memenangkan Pemilu legislatif), sehingga friksi dalam parlemen bisa diminimalisir. Bahkan dengan keadaan yang demikian pun eksekutif seringkali dihambat oleh DPR. Seandainya presiden terpilih yang akan datang tidak berasal dari Golkar-PDIP, kondisi ini bisa jadi lebih berat. Dengan Golkar dan PDIP berpotensi menjadi oposisi pemerintah, siapapun presiden terpilih yang akan datang, yang bukan berasal dari kedua partai tersebut, harus bersiap-siap menghadapi parlemen yang lebih ‘usil’ daripada yang ada sekarang.

Koalisi tandingan dalam kabinet mungkin bisa menjadi pilihan bagi sang presiden untuk meredam hambatan dari parlemen. Namun pilihan ini pun memiliki kelemahan yang cukup beresiko. Koalisi tersebut haruslah sangat besar, karena lawan yang akan dihadapi adalah Golkar dan PDIP. Dengan kedua partai besar tersebut berada di luar hitungan koalisi, maka tentu koalisi harus (terpaksa) dilakukan dengan partai-partai lain, yang kemungkinan tidak hanya satu atau dua, sehingga membentuk koalisi multipartai seperti dalam kabinet sekarang. Namun, di luar kemampuannya untuk menjadi kekuatan penyeimbang di parlemen, koalisi multipartai jelas memiliki kelemahan.

Sifat pemerintahan Indonesia di mana menteri dalam kabinet tetap menjaga status kepartaiannya (artinya, seorang menteri bisa menjadi menteri seraya tetap menjadi perwakilan partai, tidak perlu keluar dari partainya) bisa memicu konflik internal dalam kabinet itu sendiri. Konflik kepentingan antara kabinet dan partai bisa terjadi, sehingga memungkinkan seorang menteri bisa lebih mendukung partainya daripada kabinet tempat ia bertugas (hal ini, menurut pengamatan saya, telah terjadi dalam pemerintahan yang sekarang). Ini tentu bisa mengurangi efektivitas kinerja pemerintah.

Dalam artikel yang sama Syamsudin Haris menyatakan bahwa sistem pemerintahan presidensial memang sebenarnya beresiko untuk diterapkan pada negara yang sedang mengalami transisi. Apalagi dikombinasikan dengan sistem multipartai yang ekstrem (maksudnya, banyak sekali partai yang bersaing).

Lalu, jika demikian, apa yang harus dilakukan?

Yang berusaha saya sampaikan adalah bahwa kita harus melakukan refleksi besar-besaran terhadap sistem pemerintahan yang ada di Indonesia. Empat solusi yang ditawarkan oleh Syamsudin Haris bisa dijadikan referensi yang baik (silakan baca artikelnya). Saya terutama setuju dengan pendapatnya bahwa perlu dilakukan penyederhanaan partai (tentunya tidak dalam waktu dekat ini karena sejak kemarin saja kampanye partai sudah dimulai) sehingga bisa muncul partai-partai mayoritas. Namun penyederhanaan ini perlu dilakukan dengan hati-hati sehingga jangan sampai setelah dikurangi, misalnya menjadi 3 atau 5 partai, terjadi friksi parah di dalam partai-partai besar tersebut, dan akhirnya pecah lagi menjadi berpuluh-puluh partai. Menurut saya satu partai besar dengan suara yang konsensus akan berefek sangat baik bagi jalannya pemerintah. Kapan hal itu bisa terwujud, biar waktu saja yang menjawab.

Saya teringat kemarin pagi mendengarkan editorial sebuah surat kabar di televisi, dan dari beberapa telepon yang masuk memberikan pendapatnya, ada sebuah saran yang nyeleneh, namun sebenarnya bisa saja serius dipikirkan dan menjadi bahan pertimbangan: “Golput tahun ini dibanyakin saja, biar terjadi semacam moratorium begitu”. Pada awalnya saya tertawa, namun setelah dipikir-pikir lagi, mungkin bisa juga demikian. Tidak, saya tidak mengajak Anda untuk golput (katanya golput itu haram kan), saya sendiri akan memilih di Pemilu nanti. Maksud saya adalah bahwa kita rasanya perlu melakukan sebuah langkah ekstrem untuk menunjukkan bahwa perlu dilakukan semacam refleksi terhadap pelaksanaan demokrasi kita. Kira-kira apa ya?

Saya berdoa semoga “pesta demokrasi” yang tinggal 3 minggu lagi ini, berjalan dengan lancar. Saya juga berdoa agar kita bsia mendapat wakil-wakil rakyat yang baik, dewasa, dan senantiasa memikirkan rakyat dalam setiap rapat-rapat yang mereka lakukan. Semoga presiden yang terpilih kelak, siapapun itu, bisa memimpin kabinetnya dengan efisien, bekerjasama dengan DPR dengan baik, sehingga Indonesia bisa lebih baik lagi.

Viva Indonesia!

The Future Today: A Story of the Present Day WALL-E

•January 17, 2009 • 3 Comments

Have you ever watched the animated movie, “WALL-E”? The movie tells a story about the cleaner-bot, WALL-E, whose job is to clean the already-empty Earth off of its excessive garbage—the whole Earth’s population fled to the outer space because its environment can no longer sustain life due to the garbage. If you haven’t got the chance to watch it, please do, it’s a great movie with stunning visual effects and a lot of messages of how your small actions today may affect the future of our beloved Blue Earth.

Now, in the movie, there was this huge mothership (I forgot what it was called) that acted as a temporary home for Earth’s refugees. The ship was fully-automated and ‘habitant-friendly’. So, or rather, too, automated and friendly that all the habitants there no longer needed to move even one step down from their floating seats. “What seat?”, you say? A seat that provided for everything you need. The seat had a built-in computer system connected to the ship’s network, from which you could do almost everything: chat with friends, order foods or drinks, move from one place to another, and even pop a parasol open during hot days (a ‘sun’ was artificially created inside the ship).

As a result of this fully-automated lifestyle, people no longer need to ‘go out’ to do things that humans ‘normally do’ (interact with others, do household chores, buy groceries, etc); why, they could do all that only by giving simple orders from their seats! And thus all of the habitants in the ship were depicted as plumpy and lazy, and when they finally realized that there was other people around them, they were confused on what to do. And as they’d never walked, they’d also had difficulties in doing so.

When I first watched those scenes, I simply thought, “Wow, that could be a problem. We shouldn’t be doing that. But, then again, those kinds of automated seats are not yet invented anyway, so I guess it’s nothing to worry about,” but it was only a while ago that I came into understanding that the phenomenon, that lifestyle practiced in the mothership, might have already been apparent in today’s ‘webbed’ world.

I would argue that the internet is the main reason behind this phenomenon. Let’s put it in a short-story so that the picture would be clear to you.

****

Suppose there’s a man named Nerdy—it’s his name, not his personality, mind you. He’s 20-something and currently taking his graduate degree in International Politics. He lives in his campus dormitory, an average-sized room with an internet connection available 24/7. In the room there were his bed, a large shelf where he organizes his small collection of books and stores his glasses, cups and plates, a dresser, a small refrigerator (he managed to snuck one in), and a desk. Not much decoration there as he likes to keep everything simple and, basically, cannot see why people would hang portraits of non-edible fruits on their walls (or put a dead bear on the floor).

Every morning around 7 o’clock, his pre-adjusted cellphone alarm beeps to wake him up. He then lazily moves his still-half awake body across his room into the bathroom and washes his face. After that, he walks to his desk, where his laptop is, and turns it on. As the operating system starts, an automatic scheduler program he downloaded from the internet pops open and reminds him of his lectures or tasks for the day.

It was Thusday. No new stuff, Nerdy opened his laptop, as usual, and was reminded by his scheduler that he was going to have “Political Theory – Part II [online via XYZ Messenger]” at 09:00 a.m. and “International Ethics” at 02:00 p.m. The former, as the scheduler reminded, was a lecture that was going to be conducted via the internet, through an internet-relayed chat application called ‘XYZ Messenger’. The lecturer, Mr. Mobility—again, it’s his name, not his personality—was a very busy person, and thus he couldn’t go to the campus in a regular basis. Then he thought of this idea of having online lectures; that way he could always teach while not leaving his other tasks left unattended. This method quickly became popular in the campus and the other lecturers had already followed suit—though not all of them were as busy as Mr. Mobility was.

Fully-awake, Nerdy then opened his web browser. He’d just remembered that, for the day’s online session, all students were assigned to read a chapter of an appointed book, discussing a certain topic about e-democracy. He quickly accessed his campus library and, after logging in, searched and found the book in its electronic version.

He looked at the clock in his laptop. 07:45 a.m. “An hour would be enough,” he thought. He began reading the assigned chapter, and took notes where necessary in his word processor. Half an hour later he felt hungry and realized that he hadn’t yet had his breakfast. So he went to his fridge, took out a box of cereal and a bottle of milk for his breakfast. He continued reading the article while finishing his breakfast, and when when the clock shows 08.45, he opened his XYZ Messenger. As he waited for his lecturer to log-in, he had conversations with his classmates, who were also having the lectures.

The teacher came—logged in—five minutes late. He immediately initiated a conference and invited all of his students to join the session. The session had many attendance because there were rumors among students that Mr. Mobility would be giving a pop quiz out of the material he had assigned to them. The students, especially those who had had repeated his class, didn’t want to miss this chance, because the lecturer is known for his strict grading. The session went by for a couple of hours, and the rumors proved to be true. The pop quiz popped in the last five minutes of the session, giving little time for lazy students who had not yet read the chapter to get the answers, even if it was through the internet. Nerdy managed to answer 4 out of the 5 questions felt quite relieved as he sent his answer sheet through the messenger.

After the session, Nerdy stretched his body to ease the strained muscles in his back. After that he returned to his laptop and surfed the web. He first opened a news channel, as he liked to stay updated with what was going on in the world around him. As a student of International Politics, he wouldn’t want to miss anything new—not that he care if an embassy somewhere’d been bombed, though; he just thought that it is necessary to know things like that. While reading the news he also opened two other websites: one was a social forum he regularly visits, and the other was his blog. The blog was where he could publish his own news. He regularly posted about his activities of a certain day, and sometimes shared his opinion or insights on certain things he found interesting. The same went on that Thursday. He published a new post sharing his experience of the last session with Mr. Mobility. After approving and responding some pending comments on his earlier posts, Nerdy closed his blog and moved on to the forum.

The social forum was his favorite website. He could meet a lot of people there and, more importantly, download various items (music, videos, applications, most of which are illegally pirated) without the need to pay for anything. He thought it was a miracle that such a forum could exist when officials are becoming stricter about the intellectual property rights. “Ahhh, the hell with it,” he mumbled. He searched, and then downloaded, a newly released music album by his favorite band.

Time went by as Nerdy surfed the world wide web, and when he realized, it was already 01.30 p.m. It was almost time for the next class, “International Ethics”. The subject, as its name implied, taught students how to behave when one was situated in formal international forums or events. It explained ways to interact with different people from different countries and cultures, so that other people would respect him/her during such occasions. Nerdy never liked the subject. He thought it was boring. Basically he had never been the kind of man that fancied formalities. He thought that ethics isn’t something you should be studying at a university.

That being the case, he was at a loss of what to do. He had already missed two classes and that meant he was at his absentee limit. But he was too lazy to even move his body across the dorm through the campus halls and into the class. Not to mention listening to the boring lecture… Should he be going or not?

*****

I have been putting this article on hold for several weeks because I could not find the appropriate ending for this one. After days of thinking (and re-thinking) I figured I should just publish this one without an ending. I presume you, readers, would have already guessed what I am trying to imply through this article. Yep, the ‘WALL-E thing’ is already standing in our front doors.

Technology has brought onto us an influence so great that that kind of lifestyle you just read is apparent not only in an animated family motion picture, but in real-life. If we’re not careful, we might see (or become) those plumpy inhabitants in just a few years. I guess it’s time to do some self-reflection, huh?

FYI the story I wrote above is taken from a real-life observation (from my campus-mates, and, to some extent, myself). Of course not all of them is based on the observation (I added some extra ‘spice’ to make it more interesting and awe-shocking) LOL.

Ratih Eka Ristiwi and Wirya Adiwena also contributed in this post.

Bali, Indonesia! Not Bali AND Indonesia!

•December 12, 2008 • 1 Comment

The idea to post this came into mind a couple of days ago, when I was with a friend watching a movie entitled, “Eagle Eye”. Shia Labeouf and Michelle Monaghan were the main casts in this movie, with Billy Bob Thornton playing the “Also Starring” part. The movie was quite good, with a lot of actions and some messages about the (perceived) ‘threat(s) to the national security of the United States’. I quote:

…and if it is Al-Khaoui, and he walks… I’m putting our people at risk.

—from the movie, Eagle Eye, by the acting President of the United States—

But I’m not going to discuss about national security here, so if you’re looking for some hard-hitting political analysis, go somewhere else (well you should actually be able to tell, just by reading the title).

Instead, I’m going to talk about another line I noticed in the movie:

[interrogating] …so you did some backpacking, (to) Singapore, Bali, Indonesia

—from the movie, Eagle Eye, by Tom Morgan (Billy Bob Thornton)—

The two bolded words (states) are the focus of my post here. It is not precisely the quote that I’m discussing; it’s the way he, and a lot of people outside Indonesia, seem to distinguish (and, to a certain degree, exclude) Bali from Indonesia—well, first of all, Mr. Thornton and the whole Eagle Eye crew might not mean anything by putting the line in the script, but that isn’t what we are talking about, you see?

Bali is a popular tourist spot for domestic as well as foreign tourists for as long as I can recall. I’ve been there a couple of times, and the beaches, the reason why a lot of tourists come here, were (and are) absolutely fantastic. The sparkling sunset reflected on the sea surface in the Kuta Beach is considered to be a valuable object to many nature photographers. Amazing. The hot climate, though not favorable for me, seems, as I observed, enjoyable for foreigners who are looking for a change.

After the awful bombing incidents several years ago, things changed. Not only lives were lost (my condolences for the victims and those who are left behind) and buildings destroyed, but the once-famous tourism there also suffered a decline due to the many travel warnings (and prohibitions) issued by many countries such as the US and Australia. The government of Indonesia then excercised its full attention to improve its national security—in the case of Bali, including capturing and, recently, executing the bombers—in the hope that it would restore international trust and thus, in this case, revive tourism in Bali. Today, tourists begin flocking again to Bali. I visited the island in December last year, and it was as magnificent as ever.

“…Wait, was what that? The government of Indonesia? What has Indonesia got to do with Bali? Why doesn’t the government of the Republic of Bali handle its own security problems?”

Well, people, that’s what I’m trying to say to you: Bali is not a republic, it is an island, a part of the Republic of Indonesia. It’s located in the East of Java, another island of Indonesia with an extensive number of cultural heritage. The reason I’m posting this seemingly-useless article (if I may consider it so), aside the Eagle Eye, is that because I’ve heard stories (from my friends, teachers, and even passersby) telling me that foreign tourists tend to mistake Bali as being separate from Indonesia. I do not know for certain if this ‘misunderstanding’ still happens today, when the world wide web is only a click away—and, being in a time like that, I certainly hope it doesn’t—but I’m still posting regardless. I hope this will be considered as an(other) effort by our citizens to familiarize yourself in saying that, “I’m going to Bali in Indonesia,” and not “I’m going to Bali, not Indonesia!”.

Have a great vacation in Bali, Indonesia!

P.S. for information regarding tourism in Bali, click here. And for information on Indonesian tourism in general, click here.

Resesi?

•December 10, 2008 • 2 Comments

Selamat pagi! Pagi ini, sambil mendengarkan lagu jazz di laptop, saya baca RSS Ticker Tape (Widget untuk Yahoo! Widgets) saya. Di luar berita-berita BBC tentang resesi global—‘global gloom’ tahun 2009; Jepang yang nampaknya semakin terperosok ke dalam resesi, dan lain-lain—saya bengong melihat headline artikel di Kompas (saya berlangganan feed dari BBC dan Kompas). Judul headline-nya “Kue Natal Tertinggi Di Indonesia”.

Jadi ceritanya,

DALAM menyambut Natal dan libur akhir tahun, Senayan City bekerja sama dengan ahli tata boga terkemuka Nila Sari melakukan terobosan spektakuler, berupa pembuatan kue natal tertinggi di Indonesia bertema Amazing Christmas. Pengunjung setia Senayan City telah menikmati kue natal setinggi 33 meter dan berdiameter 9 meter yang dipamerkan di Main Atrium Senayan City pada 28 November – 8 Desember 2008.

(untuk selengkapnya klik di sini)

…Nampaknya resesi global tidak sampai ke Senayan City ya.

Merenungi Peran Ibrahim

•December 9, 2008 • 6 Comments

Selamat pagi! Sebelumya saya ucapkan “Selamat Hari Raya Idul Adha 1429H” bagi Anda yang merayakannya. Mudah-mudahan berkah selalu menyertai kita. Dan mudah-mudahan sapi yang kemarin lepas di jalan raya di Jakarta itu akhirnya bisa menemukan kedamaian di sisi-Nya.

Saya ingin sedikit membahas tentang Idul Adha. Tapi bukan Idul Adha-nya, melainkan peranan tokoh utama dalam peristiwa ini, Nabi Ibrahim. Keinginan menulis ini tiba-tiba muncul waktu beberapa hari lalu saya kebetulan nonton acara ceramah Subuh di stasiun TV lokal yang berslogan “Memang Untuk Anda”. Saya tidak biasa nonton acara seperti ini, tapi saya tahu kalau yang mengisi pasti orang yang dipanggil “Mama” itu. Seorang wanita paruh baya yang berkerudung, ditemani pembawa acara yang agak komikal (lucu, maksudnya)–mudah-mudahan dengan penjelasan ini Anda mengerti acara apa yang saya maksud.

Oke, dalam acara itu, si penceramah berkata bahwa Ibrahim adalah tokoh yang diakui oleh semua agama ‘Ibrahimi’ (maafkan penggunaan istilah saya yang asal), yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Dalam Islam, kita mengenal bahwa Nabi Ibrahim adalah moyang Nabi Besar Muhammad saw. Dalam hubungannya dengan Idul Adha, beliau dikenal karena kepatuhannya yang luar biasa terhadap Allah swt, yang ditunjukkannya dengan kerelaan untuk mengorbankan anaknya, Ismail–sekedar informasi, Allah yang telah menyaksikan kepatuhan Ibrahim kemudian mengganti Ismail dengan seekor kambing (atau domba); inilah yang menjadi simbol Idul Adha (Ismail kelak akan menjadi nabi pula). Agama Kristen pun, dalam Kitab Perjanjian Baru, mengakui Ibrahim (Abraham) sebagai utusan Tuhan yang patuh, dan bahkan cerita tentang pengorbanan anaknya (yang kemudian dicegah oleh malaikat Tuhan) juga diakui oleh agama tersebut. Dan Yahudi, wah, saya tidak perlu menjelaskan lagi. Abraham adalah Bapaknya umat Yahudi.

Apa yang berusaha saya tarik dari persamaan tersebut? Tentu saja toleransi. Kenapa Ibrahim? Well, saya hanya berusaha memanfaatkan momen Idul Adha semaksimal mungkin (hehehe). Oh, dan saya tidak sedang berusaha mempersamakan agamanya, mohon Anda bijak dalam menilai. Saya tahu agama itu berbeda-beda, tapi tiap-tiap agama memiliki nilai universal yang baik! (ehem, saya jadi ngelantur, biar ini menjadi bahasan di lain waktu saja..)

Anyway, Ibrahim adalah teladan bagi saya yang Muslim, maupun Anda yang Kristen, Yahudi, atau bahkan Anda umat beragama lain. Ia mengajarkan kita bahwa kita harus patuh, tunduk kepada-Nya. Dan di balik kisah Ibrahim ini juga kita ditunjukkan bahwa ternyata kita memang ‘bersaudara’. Kita hanya dipisahkan oleh sejengkal perbedaan bernama agama. Lalu kenapa kita saling bertengkar? Saling mencurigai, saling hina sana-sini? Nabi Ibrahim nampaknya akan kecewa melihat umatnya kalau kita terus-terusan begini. Kita tidak perlulah berbicara soal perbedaan. Berteman, berdialog, saling toleransi itu menurut saya jauh lebih terasa damai daripada teriak-teriak sambil membakar tempat ibadah orang lain.

Semboyan Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Mari kita ejawantahkan bersama–eh, bukannya kita sedang ngomongin Ibrahim?

Multi Level Marketing

•December 9, 2008 • 1 Comment

Ada cerita lucu nih. Siang itu saya sedang ngobrol sama teman-teman di asrama. Ngobrolnya sambil main game di komputer teman sebelah kamar saya. Obrolannya lumayan seru, soal MLM, ceritanya di kampus tempat saya kuliah, sedang ada semacam ‘demam MLM’. Beberapa (tidak banyak sih) teman saya ikut ke dalam konsep bisnis ‘berprospek cerah’ ini.

Terus saya tiba-tiba lihat ada satu CD-case (kotak/tempat CD) yang isinya video CD berjudul “Ada Apa Dengan MLM?” tergeletak di mejanya, lengkap di sampingnya ada brosur salah satu perusahaan MLM terkenal yang bergerak di bidang obat-obatan. Tidak tahu? Perusahaannya dari China. Tidak tahu juga? Makanya, nonton TV dong, baca koran, buka internet.

Saya yang tidak pernah bisa yakin dengan bisnis MLM ini, tanya ke teman saya itu:

Saya        :  Eh, Mibu, lo sekarang ikutan MLM??
Mibu       :  (kaget) Hah? Apaan? Kagak!! Itu gue dapet dari temen!
Saya        : Oh, gue kirain punya lo, kalo ini punya lo kan bisa ‘terjelaskan’ kenapa lo kayanya sejahtera nih belakangan ini. (ketawa) …Hmmm, tapi gue ga pernah ngerti nih gimana konsep bisnisnya!

Lalu si Mibu ini menjelaskan dengan detail konsep bisnis perusahaan China itu. Sangat detail sampai-sampai saya yang tadinya tidak mengerti, jadi tertarik. Tapi bukan tertarik ingin ikutan lho ya. Cuma tertarik ingin tahu saja. Sungguh. Saya tidak tertarik dengan iming-iming “20 juta sebulan” kok. Tidak tertarik juga dengan iming-iming bonus mobil, kapal pesiar, atau villa mewah. Benar deh…

Ehm, anyway, akhirnya saya dan teman saya yang lain, Niida yang juga lagi main, penasaran, jangan-jangan ini orang sebenarnya sudah ikutan MLM:

Saya        :  Detail banget, Mi! Jangan-jangan lo anggota ya??
Mibu       :  He? Ehh, kagak kagak! Itu temen gue, dia kemaren presentasi ke gue, gue sih ga ikutan!
Niida       :  Ah, yang bener lo mi…
Mibu       :  Iyyaaa, gue baru ikutan kalo gue punya duit nganggur, kere gini mah ngapain!

Dan pembicaraan menekan itu terus berlanjut sampai saya dan Niida akhirnya menyerah karena Mibu tetap tidak ngaku (atau jangan-jangan memang benar dia belum ikutan, hahaha).

Dengan suasana hati yang masih memikirkan “what’s with these guys and MLM??” besok paginya saya ditelepon teman saya, Yura, pembicaraannya kira-kira begini:

Yura       :  Ndra, lo lagi sibuk ga?
Saya       :  Nanti gue mau ke donor darah, habis itu ke tempat Ratih (pacar saya). Kenapa?
Yura       : Ngga, ini gue mau nawarin kerjasama bisnis buat lo.

JREEEENGG!! Saya yang sudah pernah ditawari MLM sebelumnya langsung ‘ngeh’. Saya langsung ngeles, bilang kalau (habis dari tempat pacar saya) mungkin pulangnya baru malamnya. Bukan apa-apa, saya benar-benar tidak bisa percaya MLM. Maaf saja buat yang sudah sukses, atau sedang menjalani MLM, tentunya saya doakan supaya bintang Anda cepat bertambah dan bisa dapat bonus mobil (atau yang lebih bagus). Tapi saya tetap tidak bisa yakin. Selain karena benar-benar kere, saya juga bukan orang yang semangat memasarkan produk ke orang-orang kalau saya tidak percaya produknya (dan konsep bisnisnya, of course).

Malamnya saya tiba di kost. Dan langsung mengantisipasi ‘hal-hal yang tidak diinginkan’ dengan mengendap-ngendap ke kamar saya. Bayangkan. Di asrama saya sendiri. Harus mengendap-endap. Akhirnya Yura tidak datang.

Besok harinya, saya seharian ada di kost. Masuk ke Yahoo! Messenger, sambil browsing. Supaya lucu, status message saya, saya ubah jadi “Ada apa dengan orang-orang dan MLM??”. Ndilalahnya, Yura juga sedang online!! Saya yang tidak sadar, terus browsing, sampai beberapa jam kemudian pintu kamar saya diketuk. Dan dia (Yura) masuk! Dia masuk dan langsung berkata “Gue punya jawabannya, Ndra!”.

Great. I can’t escape, after all.

See, the thing is, saya benar-benar tidak tertarik. Dan masalahnya lagi, saya bukan orang yang bisa menyembunyikan ketidaktertarikan saya lewat ucapan-ucapan seperti, “Wah, masa??”, atau, “Gile, sehebat itu??”. Jadi, dalam usaha menyembunyikan perasaan saya, saya akhirnya mendengarkan presentasi Yura sambil main game. Jadi kalau saya bilang “oohh…,” atau “wow, masa?” dengan nada yang kentara sekali tidak seriusnya, itu karena konsentrasi saya (pura-pura) terbagi. Singkatnya, presentasi selesai, dia kasih saya video CD yang sama seperti punya Mibu, lengkap pula dengan brosurnya (dan saya jadi paham siapa ‘temen gue’ yang dimaksud Mibu). Tapi saya tidak pernah nonton CD itu sampai sekarang (maafkan saya Yura).

Anda punya pengalaman menarik soal presentasi MLM? Atau Anda termasuk salah satu dari mereka yang sukses? Silakan berbagi! Hahaha.