Halo!! Dengan Pemilihan Umum yang kini sudah berada dalam hitungan hari (minggu, lebih tepatnya), mari kita putuskan apa yang akan kita lakukan dalam pesta demokrasi kali ini, yang katanya adalah batu loncatan terakhir dalam masa transisi reformasi Indonesia.
Mengutip satu pembicara dalam sebuah seminar Pemilu yang saya hadiri beberapa hari lalu, saya ingin mencoba ‘bertanggung jawab terhadap masyarakat di sekeliling saya’ dengan mengajak Anda semua, yang membaca blog ini, untuk menggunakan hak pilih Anda (termasuk saya juga) dalam Pemilu 9 April mendatang!!
Ingat: 9 April, jangan sampai lupa untuk pulang sehari dan mencontreng kertas suaranya. Simpel kok: Anda hanya tinggal contreng di sebelah foto caleg (calon legislatif—pen) saja. Atau kalau merasa tidak sreg dengan caleg manapun, Anda selalu bisa mencontreng lambang partainya saja.
Nah, setelah membaca posting terakhir saya, mungkin ada beberapa dari Anda yang malah jadi bingung ingin memilih caleg atau partai (atau presiden, nantinya) mana. Tidak cuma karena masalah sistem pemerintahan itu, tapi juga karena terlalu banyak partai dan caleg yang terlibat dalam Pemilu sekarang ini. Saya juga mendengar dari berita kalau tidak sedikit masyarakat yang kebingungan, dan jadi malas atau antipati (termasuk di kalangan kolega-kolega saya) untuk ikut Pemilu, terutama Pemilu legislatif (meskipun KPU telah berinisiatif mengirimkan SMS ajakan mencontreng ke ponsel-ponsel masyarakat). Beberapa pendapat yang saya saring dari teman-teman (melalui obrolan informal, sambil main game, chatting, atau makan pisang) menyatakan bahwa mereka ‘mungkin tidak akan ikut Pemilu legislatif, tapi akan ikut Pemilu presiden’. Beberapa sudah tahu akan memilih siapa pada pemilihan presiden (pilpres) nanti.
Mungkin teman-teman di sekitar Anda juga berpendapat demikian (atau mungkin Anda juga punya pemikiran seperti itu?). Saya pribadi sempat terpengaruh untuk ikut-ikutan tidak memilih legislatif. Alasan utamanya juga karena saya bingung mau pilih siapa: kebanyakan caleg! Dan dari banyak atribut kampanye yang saya lihat, yang mengotori pemandangan kota manapun di sepanjang jalan (oh, betapa saya ingin semua kota seperti sebuah dusun di Yogyakarta yang anti atribut kampanye), saya harus bilang bahwa saya tidak kenal banyak dari mereka (kecuali beberapa tokoh yang cukup ternama dan artis-artis, yang, nampaknya, makin kebelet saja ingin jadi caleg). “Tak kenal maka tak contreng”, saya kira bunyi peribahasanya demikian.
Namun apakah kemudian saya harus menjadi golput (golongan putih, tidak memilih—pen.)? Saya kira tidak. Ada satu tips memilih (yang juga rencananya akan saya gunakan) yang saya harap bisa dijadikan semacam dorongan buat Anda sekalian agar tidak terjerumus (maafkan istilah yang saya pakai) dan justru menjadi golput. Pertama-tama perlu disadari dulu bahwa, seperti yang telah saya sampaikan, Pemilu 2009 ini katanya akan menjadi semacam indikator ‘lepas landas’ dari reformasi. Keberhasilan Pemilu ini, oleh karenanya, adalah keberhasilan Indonesia pula. Sebagai orang-orang yang senantiasa bangga terhadap Tanah Air, sudah sewajarnya kita harus turut serta dalam upaya menuju keberhasilan tersebut, bukan?
Tips yang saya ajukan ini berhubungan dengan posting saya sebelumnya (makanya, saya kan sudah bilang, dibaca dulu!). Sebelumnya saya berbicara soal sistem pemerintahan: bahwa Indonesia memiliki sistem pemerintahan yang ‘DPR heavy’. Artinya, kekuatan presiden kelak akan bergantung pula pada komposisi parlemen (yaitu seberapa banyak oposisi yang berkuasa, seberapa banyak yang berpihak, dan sebagainya). Terlalu banyak oposisi akan memicu terbentuknya ‘kabinet pelangi’ (kabinet yang di dalamnya terdapat menteri-menteri dari berbagai partai), dan ini mengurangi efisiensi kinerja pemerintah. Dari sini maka kesimpulan yang bisa ditarik adalah: banyaknya anggota parlemen pendukung pemerintah (non-oposisi) akan membantu meningkatkan efisiensi lembaga eksekutif. Membantu, dalam arti relatif lebih mudah dalam menggolkan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah (apalagi yang pro-raktyat).
Kesimpulannya? Dalam Pemilu legislatif nanti, pilihlah partai yang sesuai dengan partai asal capres yang akan Anda pilih kelak! Simple as that. Dari sekarang kita sudah bisa tahu, kan (kecuali Anda tidak pernah nonton televisi atau sekedar baca koran) siapa saja prediksi calon presiden yang akan berlaga dalam arena pilpres nanti. Ini untuk membantu si capres pilihan Anda juga, lho: Ingat, presiden yang didukung parlemennya (dengan sistem pemerintahan kita sekarang) akan bekerja relatif lebih efisien.
“…Tunggu dulu sedetik (wait a second)! Tetap saja tidak ada pengaruhnya kalau orang-orang tidak pilih partai yang saya pilih, kan?”
Well, setidaknya Anda sudah membuktikan bahwa Anda peduli dengan masa depan negara Anda! Anda tentu tidak mau kalau presiden yang Anda pilih kelak terus-terusan terhambat oleh parlemennya, bukan? Anda juga pasti tidak mau mendapati diri Anda, pada suatu waktu, berpikir, “Coba waktu itu saya pilih partainya waktu Pemilu legislatif!”. Gunakan hak pilih Anda tanggal 9 nanti!
Bingung pilih caleg mana? Sudah saya bilang, CONTRENG SAJA PARTAINYA!! Itu masih lebih baik daripada kalau Anda ‘memilih untuk tidak memilih’ (lihat ironinya, kan?)

Komentar Anda